Minggu, 26 September 2010

Aku Pemenang

Aku adalah pemenang

Aku percaya diri

Aku punya kehendak untuk menang

Aku menetapkan tujuan setinggi langit bagiku

Aku berani

Aku tak akan menyerah

Aku mengelilingi diri dengan para pemenang

Aku cerdas, positif, dan percaya diri

Aku bersedia membayar harga kesuksesanku

Aku suka perjuangan dan kompetisi

Aku tetap bisa santai dan memegang kendali selamanya

Aku memfokuskan seluruh energiku pada pekerjaan di tanganku

Dengan amat hidup kubayangkan seperti apa kemenangan itu

Aku adalah pemenang dan aku akan menang......

Sabtu, 25 September 2010

Leaving A Legacy

by Arvan Pradiansyah

Tiga orang tukang batu nampak begitu sibuk. Mereka semua sedang menyusun
batu bata ketika seseorang datang mendekati mereka dan menanyakan apa yang
sedang mereka kerjakan. Tukang batu pertama yang dari tadi nampak mengomel
menjawab dengan kesal, Apa kamu tak lihat, saya sedang sibuk enyusun batu
bata Tukang batu kedua berdesah, Saya sedang mencari nafkah untuk hidup.
Anehnya tukang batu ketiga justru bersiul-siul. Wajahnya pun nampak
berseri-seri. Saya sedang membangun mesjid (atau katedral), katanya.

Cerita sederhana mengenai tukang batu di atas sebenarnya dapat juga mewakili
apa yang terjadi di tempat kerja. Ada karyawan yang setiap hari tak pernah
berhenti mengeluh. Ia merasakan pekerjaannya sebagai sesuatu yang rutin dan
membosankan. Orang ini gagal menemukan makna dibalik pekerjaannya. Orang
kedua sudah mulai dapat melihat makna pekerjaannya, tetapi semuanya itu
hanya untuk memenuhi kebutuhannya sekarang ini. Orang ketiga begitu
bersemangat karena ia merasakan makna pekerjaannya yang jauh lebih besar
dari sekedar kegiatan fisiknya. Ia sadar bahwa hasil pekerjaannya bukanlah
sekedar untuk dinikmati di masa sekarang, tetapi untuk masa-masa mendatang,
bahkan setelah ia meninggalkan dunia yang fana ini. Inilah yang
disebut*leaving a legacy (meninggalkan warisan).
*

Leaving a Legacy merupakan kebutuhan manusia yang tertinggi setelah
kebutuhan fisik (*to live*), kebutuhan sosial emosional (*to love*) dan
kebutuhan mental (*to learn*). Inilah kebutuhan untuk menemukan makna di
balik apa yang kita lakukan sekarang. Lihatlah pekerjaan Anda. Apa maknanya
bagi Anda? Kalau yang Anda cari hanyalah aspek fisiknya yaitu sekedar
mencari nafkah, berarti Anda baru ada di tingkat pertama yaitu : to live.

Namun banyak juga orang yang bekerja bukan semata-mata karena uang, tetapi
karena membutuhkan lingkungan bergaul dan bersosialisasi. Kalau itu yang
terjadi pada Anda, Anda sudah berada di tingkat kedua yaitu : to love.

Bagi Anda yang tergolong high achiever, pekerjaan yang baik bukanlah yang
sekedar memberikan penghasilan dan sosialisasi yang memadai. Pekerjaan
tersebut juga harus memberikan tantangan dan kesempatan untuk terus belajar.
Menurut Herzberg, penghasilan yang memadai dan lingkungan kerja yang
menyenangkan saja belum akan mendatangkan kepuasan kerja (job satisfaction).
Kedua hal tersebut hanya akan menghindarkan Anda dari ketidakpuasan kerja
(job dissatisfaction). Anda tak akan mendapatkan kepuasan kerja bila Anda
hanya melakukan sesuatu yang rutin dan mudah. Anda membutuhkan tantangan
karena hanya dengan tantangan inilah Anda dapat terus maju dan berkembang.
Inilah tingkatan ketiga yaitu : to learn.

Tingkatan yang keempat yaitu *to leave a legacy* (*meninggalkan warisan*)
berada di atas itu semua. Anda bekerja karena pekerjaan Anda tersebut
memberikan sumbangan (kontribusi) kepada orang lain. Anda menjual barang dan
jasa karena hal itu dapat meningkatkan kualitas hidup orang lain: membuat
mereka menjadi lebih baik, lebih produktif, lebih sukses, lebih bahagia,
lebih maju dan seterusnya. Apapun yang Anda lakukan senantiasa dimaknai
dalam konteks membantu orang lain untuk sukses.

Tingkatan keempat inilah yang akan begitu menggairahkan kita untuk bekerja.
Inilah yang akan memberikan kepuasan kerja yang tak ada taranya. Inilah yang
akan membuat keberadaan Anda di dunia ini jauh lebih lama melebihi usia yang
mungkin diberikan Tuhan kepada Anda. Inilah tabungan-tabungan kebaikan yang
akan terus mengalir kepada Anda sekalipun Anda telah meninggalkan dunia yang
fana ini.

Lantas, pekerjaan macam apa yang dapat membuat Anda mencapai tingkatan
keempat ini? Jawabnya, semua jenis pekerjaan yang baik, asalkan dilakukan
dengan tulus dan ikhlas. Pekerjaan tersebut memang masih tetap sama secara
fisik, tetapi dengan niat yang tulus makna pekerjaan ini sekarang telah jauh
melampaui bentuk fisiknya. Sebuah pekerjaan sederhana seperti tukang sapu
memang hanya bermakna fisik bila dilakukan sekedar untuk memidahkan sampah
dari satu tempat ke tempat lain, tetapi pekerjaan itu akan bermakna
spiritual kalau diniatkan untuk menciptakan suasana kerja yang bersih yang
menimbulkan semangat dan kegairahan semua orang untuk mencapai
produktivitas.

Seorang pengarang Lord Hallifax pernah mengatakan, *A Service is the rent
that we pay for our room on earth*. *Pelayanan adalah harga yang harus kita
bayar untuk tempat kita di bumi.* Ada cerita menarik mengenai seorang kakek
yang sudah tua dan renta yang sedang menanam pohon mangga. Melihat hal itu
tetangganya keheranan dan bertanya, Apakah Bapak berharap dapat makan buah
mangga dari pohon ini?

Si kakek menjawab, Memang tak mungkin, mengingat umurku sekarang ini. Tapi
saya telah menikmati banyak buah mangga yang ditanam orang lain. Saya hanya
mencoba untuk membalas budi dengan memberikan sesuatu kepada generasi yang
akan datang.

Ada banyak pekerjaan yang memberikan manfaat kepada orang lain melebihi umur
kita sendiri bahkan melampaui kendala ruang dan waktu. Seorang penemu
listrik misalnya, telah membawa kesejahteraan bagi umat manusia sedunia
sampai sekarang ini dan di masa depan. Seorang penemu roda telah memudahkan
hidup begitu banyak manusia. Semua penemu benda-benda yang telah memudahkan
hidup manusia ini masih terus memberikan manfaat kepada dunia sekalipun
mereka telah lama tiada.

Para ilmuwan, para guru, para penulis buku, mereka punya peluang untuk hidup
lebih lama daripada usia mereka sendiri. Selama masih ada orang yang
mengamalkan ilmu mereka yang mungkin dapat diwariskan dari generasi
kegenerasi, selama masih ada orang yang menjadi lebih baik, lebih sabar dan
lebih arif karena membaca karya-karya mereka, selama itu pula
tabungan-tabungan kebaikan itu akan mengalir kepada mereka.

Begitu juga seorang seniman, musisi, penyanyi, pemain drama, dan lain-lain.
Kalau mereka dapat menciptakan musik-musik yang menggugah orang untuk
melakukan kebaikan, menghibur orang ke arah yang positif, mengingatkan orang
akan Tuhan dan sebagainya, mereka akan terus mendapatkan deposito kebaikan
yang melampaui ruang dan waktu. Seorang ibu yang sederhanapun dapat
memberikan sumbangan yang tak ternilai kepada dunia berupa putra-putri yang
baik yang selalu mengajak orang untuk berbuat kebaikan, dan pada saatnya
nanti akan melahirkan generasi penerus yang baik. Tabungan kebaikan si ibu
ini akan terus mengalir dari generasi ke generasi melampaui kendala ruang
dan waktu.

Kualitas kita bukanlah ditentukan oleh lamanya kita hidup, bukan pula oleh
pangkat dan posisi kita, tetapi oleh manfaat yang kita berikan kepada dunia.
Orang yang terbaik adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat kepada
orang lain. *The Best of You is The Most Advantageous One.* Inilah kriteria
orang yang sukses. Ukuran kesuksesan bukanlah ketika kita hidup, melainkan
ketika kita telah meninggalkan dunia yang fana ini.

Mengenal Mr. Mahmoud Ahmadinejad

Judul Buku "Ahmadinejad, David di Tengah Angkara Goliath Dunia" Terbitan Himah Teladan, kelompok Mizan.

Dan kini ada Ahmadinejad, seorang tokoh in reality! Seberapa sederhanakah beliau ini? Let me tell you.
Berikut ini saya kutipkan sebagian dari yang saya baca dari buku tersebut.
Konon ketika beliau sudah menjabat sebagai walikota Teheran yang memiliki populasi lebih besar daripada Jakarta ia masih tampil dengan sepatu yang bolong-bolong. Ia menyapu jalanan Teheran dan bangga dengan itu. Sampai sekarang pun ia masih tampil dengan kemeja lengan panjang sederhana sehingga jika kita tidak mengenalnya dan bertemu dengannya kita tidak akan pernah mengira bahwa beliau adalah seorang presiden. Ya presiden dari sebuah negara besar. Di Balikpapan di mana saya tinggal bahkan hampir semua guru rasanya punya jas.

Sebelum menjabat sebagai presiden Iran beliau adalah walikota Teheran, periode 2003-2005. Teheran, ibukota Iran, kota dengan sejuta paradoks, memiliki populasi hampir dua kali lipat dari Jakarta, yaitu sebesar 16 juta penduduk. Untuk bisa menjadi walikota dari ibukota negara tentu sudah merupakan prestasi tersendiri mengingat betapa Iran adalah negara yang dikuasai oleh para mullah. Ia bukanlah ulama bersorban, tokoh revolusi, dan karir birokrasinya kurang dari 10 tahun. Beliau tinggal di gang buntu, maniak bola, tak punya sofa di rumahnya, dan kemana-mana dengan mobil Peugeot tahun 1977. Penampilannya sendiri jauh dari menarik untuk dijadikan gosip, apalagi jadi selebriti. Rambutnya kusam seperti tidak pernah merasakan sampo dan sepatunya itu-itu terus, bolong disana-sini, mirip alas kaki tukang sapu jalanan di belanatara Jakarta. Nah! Kira-kira dengan modal dan penampilan begini apakah ia memiliki kemungkinan untuk menjabat sebagai walikota Depok saja, umpamanya?

Dalam tempo setahun pertanyaan tentang kemampuannya memimpin terjawab. Warga Teheran menemukan bahwa walikotanya sebagai pejabat yang bangga bisa menyapu sendiri jalan-jalan kota, gatal tangannya jika ada selokan yang mampet dan turun tangan untuk membersihkannya sendiri, menyetir sendiri mobilnya ke kantor dan bekerja hingga dini hari sekedar untuk memastikan bahwa Teheran dapat mejadi lebih nyaman untuk ditinggali.
"Saya bangga bisa menyapu jalanan di Teheran." Katanya tanpa berusaha untuk tampil sok sederhana. Di belahan dunia lain sosoknya mungkin dapat dijadikan reality show atau bahkan aliran kepercayaan baru.

Sejak hari pertama menjabat ia langsung mengadakan kebijakan yang bersifat religius seperti memisahkan lift bagi laki-laki dan perempuan (ini tentu menarik hati para wanita di Teheran), menggandakan pinjaman lunak bagi pasangan muda yang hendak menikah dari 6 juta rial menjadi 12 juta rial, pembagian sup gratis bagi orang miskin setiap pekan, dan menjadikan rumah dinas walikota sebagai museum publik! Ia sendiri memilih tinggal di rumah pribadinya di kawasan Narmak yang miskin yang hanya berukuran luas 170 m persegi. Ia bahkan melarang pemberian sajian pisang bagi tamu walikota mengingat pisang merupakan buah yang sangat mahal dan bisa berharga 6000 rupiah per bijinya. Ia juga menunjukkan dirinya sebagai pekerja keras yang sengaja memperpanjang jam kerjanya agar dapat menerima warga kota yang ingin mengadu.

Namun salah satu keberhasilannya yang dirasakan oleh warga kota Teheran adalah spesialisasinya sebagai seorang doktor di bidang manajemen transportasi dan lalu lintas perkotaan. Sekedar untuk diketahui, kemacetan kota Teheran begitu parahnya sehingga saya pernah dikirimi salah satu foto lelucon dari berbagai belahan dunia dengan judul "Only in Equot" salah satunya dari Teheran dengan judul "Only in Teheran" dengan foto kemacetan lalu lintasnya yang bisa bikin penduduk Jakarta menertawakan kemacetan lalu lintas di kotanya. Secara dramatis ia berhasil menekan tingkat kemacetan di Teheran dengan mencopot lampu-lampu di perempatan jalan besar dan mengubahnya menjadi jalur putar balik yang sangat efektif.
Setalah menjabat dua tahun sebagai walikota Teheran ia masuk dalam finalis pemilihan walikota terbaik dunia World Mayor 2005 dari 550 walikota yang masuk nominasi. Hanya sembilan yang dari Asia, termasuk Ahamdinejad.

Tapi itu baru awal cerita. Pada tangagl 24 Juni 2005 ia menjadi bahan pembicaraan seluruh dunia karena berhasil menjadi presiden Iran setelah mengkanvaskan ulama-cum-mlliter Ali Hashemi Rafsanjani dalam pemilihan umum. Bagaimana mungkin padahal pada awal kampanye namanya bahkan tidak masuk hitungan karena yang maju adalah para tokoh yang memiliki hampir segalanya dibandingkan dengannya? Dalam jajak pendapat awal kampanye dari delapan calon presiden yang bersaing, Akbar hasyemi Rafsanjani, Ali Larijani, Ahmadinejad, Mehdi Karrubi, Mohammed Bhager Galibaf, Mohsen Meharalizadeh, Mohsen Rezai, dan Mostafa Min, popularitas Ahmadinejad paling buncit.

Pada masa kampanye ketika para kontestan mengorek sakunya dalam-dalam untuk menarik perhatian massa, Ahmadinejad bahkan tidak sanggup untuk mencetak foto-foto dan atributnya sebagai calon presiden. Sebagai walikota ia menyumbangkan semua gajinya dan hidup dengan gajinya sebagai dosen. Ia tidak mampu untuk mengeluarkan uang sepeser pun untuk kampanye! Sebaliknya ia justru menghantam para calon presiden yang menggunakan dana ratusan milyar untuk berkampanye atau yang bagi-bagi uang untuk menarik simpati rakyat.

Pada pemilu putaran pertama keanehan terjadi, nama Ahmadinejad menyodok ke tempat ketiga. Di atasnya dua dedengkot politik yang jauh lebih senior di atasnya, Akbar Hashemi Rafsanjani dan Mahdi Karrubi. Rafsanjani tetap menjadi favorit untuk memenangi pemilu ini mengingat reputasi dan tangguhnya mesin politiknya. Tapi rakyat Iran punya rencana dan harapan lain, Ahmadinejad memenangi pemilu dengan 61 % sedangkan Rafsanjani hanya 35%. Logika real politik dibikin jungkir balik olehnya.

Ahmadinejad memang penuh dengan kontroversi. Ia presiden yang tidak berasal dari mullah yang selama puluhan tahun telah mendominasi hampir semua pos kekuasaan di Iran, status quo yang sangat dominan. Ia juga bukan berasal dari elit yang dekat dengan kekuasaan, tidak memiliki track-record sebagai politisi, dan hanya memiliki modal asketisme, yang untuk standar Iran pun sudah menyolok. Ia seorang revolusioner sejati sebagaimana halnya dengan Imam Khomeini dengan kedahsyatan aura yang berbeda. Jika Imam Khomeini tampil mistis dan sufistis, Ahamdinejad justru tampil sangat merakyat, mudah dijangkau siapapun, mudah dipahami dan diteladani. Ia adalah sosok Khomeini yang jauh lebih mudah untuk dipahami dan diteladani. Ia adalah figur idola dalam kehidupan nyata. Seorang 'satria piningit' yang mewujud dalam sosok nyata. Sebagaimana mentornya, ia tidak terpengaruh oleh kekuasaan. Kekuasaan seolah tidak menyentuh karakter-karakter terdalamnya. Ia seolah memiliki 'kepribadian ganda', di satu sisi ia bisa bertarung keras untuk merebut dan mengelola kekuasaan, dan di sisi lain ia bertarung sama kerasnya menolak segenap pengaruh kekuasaan agar tidak mempengaruhi batinnya. Tidak bisa tidak, dengan karakter yang demikian kompleks itu seorang revolusioner macam Ahmadinejad memang ditakdirkan untuk membuat banyak kejutan dan drama pada dunia.

Ia memangkas semua biaya dan fasilitas kedinasan yang tidak sine-qua-non terutama dengan urusan pribadi. Dalam pandangannya, untuk mewujudkan masyarakat Islam yang maju dan sejahtera, pejabat negara haruslah memiliki standar hidup yang sama dengan rakyat kebanyakan., mencerminkan kehidupan nyata dari masyarakatnya, dan tidak hidup di menara gading. Ia menetapkan PPN baru bagi orang-orang kaya dan mengunakan dananya untuk membangun perumahan bagi rakyat miskin. Ia membawa 'uang minyak ke piring-piring orang miskin' dengan program "Reza Love Fund" (Reza adalah Imam ke delapan kaum Syiah) dengan mengalokasikan 1,3 milyar dollar untuk program bantuan bagi kalangan muda untuk menikah, memulai usaha baru, dan membeli rumah.

Meski mengagumi Imam Khomeini dan hidup asketis tidak berarti ia konservatif. Ia bahkan tampil moderat. Ketika ditanya apakah ia akan mengekang penggunaan jilbab yang kurang Islami di kalangan remaja Teheran, ia menjawab, "Orang cenderung berpikir bahwa kembali ke nilai-nilai revolusioner itu hanya urusan memakai jilbab yang baik. Masalah sejati bangsa ini adalah lapangan kerja dan perumahan untuk semua, bukan apa yang harus dipakai."

Meski telah terpilih menjadi presiden ia sama sekali tidak mengubah penampilannya. Ia tetap tampil bersahaja dan jauh dari pamor kepresidenan. Pada salah satu acara dengan kalangan mahasiswa salah satu peserta menanyakan penampilannya yang tidak menunjukkan tampang presiden tersebut. Dengan lugas ia menjawab, "Tapi saya punya tampang pelayan. Dan saya hanya ingin menjadi pelayan rakyat." Air mata saya mengalir membaca ini. Subhanallah! Alangkah rendah hatinya pemimpin satu ini. Tak salah jika ia dicintai oleh bagitu banyak mahluk Tuhan di seluruh muka bumi.

Saya tidak ingin menulis lebih panjang tentang tokoh satu ini. Saya menganjurkan setiap orang untuk membeli bukunya dan membacanya sendiri dan menikmatinya sebagaimana saya menikmatinya. Belikan satu buku untuk anak Anda dan biarkan ia mengenal satu tokoh besar dunia yang masih hidup dan mudah-mudahan kelak dapat mengikuti jejaknya. Saya hanya ingin menutup tulisan ini dengan pendapatnya mengapa ia bersikeras agar Iran memiliki teknologi nuklir. Katanya,:"Jika nuklir ini dinilai jelek dan kami tidak boleh menguasai dan memilikinya mengapa kalian sebagai negara adikuasa boleh memilikinya? Sebaliknya, jika teknonuklir ini baik untuk kalian, mengapa kami tidak boleh juga memakainya?" Suatu argumen sederhana yang tidak mampu dijawab oleh negara-negara Barat. Itu sebabnya Bush tidak bersedia meladeninya dalam suatu tantangan debat di PBB.

APA YANG KITA SOMBONGKAN

Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja, ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, "Apa yang sedang Anda lakukan?" Sang Guru menjawab, "Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya."

Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain. Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain. Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain. Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita. Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence). Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas. Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub.

Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi. Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan. Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala "tampak luar" lainnya. Yang kini kita lihat adalah "tampak dalam". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego. Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.

Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri. Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?

Jumat, 24 September 2010

5 kualitas dari sebuah pensil.

"Kualitas Pertama, pensil mengingatkan kamu kalo kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya tangan Tuhan, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya".

"Kualitas Kedua, dalam proses menulis, nenek kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil nenek. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik".

"Kualitas Ketiga, pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar".

"Kualitas Keempat, bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu".

"Kualitas Kelima, adalah sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan. Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan meninggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap semua tindakan".